aku

aku, hanya sederhana. sama manusia pernah terbalut luka dan kecewa, sedang krisis kepercayaan, takut berteman, takut mencintai, takut ditinggalkan.

aku, dan malamku. ditemani lilin dan secangkir kopi.

aku takut.

aku benci gelap.

aku takut sendirian.

aku berlari. menjauh, tak terkendali. aku takut dimiliki. aku takut memiliki.

seseorang datang, berikan lengan tuk dipegang.

aku ragu.

aku bimbang.

ternyata dia juga tak lama berdiri disana……

Add comment April 11, 2008 adelinenatasha

bruise easily – natasha B

My skin is like a map, of where my heart has been
And I can’t hide the marks, but it’s not a negative thing
So I let down my guard, drop my defences, down by my clothes
I’m learning to fall, with no safety net, to cushion the blow

I bruise easily, so be gentle when you handle me
There’s a mark you leave, like a love heart, carved on a tree
I bruise easily, can’t scratch the surface without moving me
Underneath I bruise easily, I bruise easily

I’ve found your finger prints on a glass of wine
Do you know you’re leaving them all over this heart of mine too
But if I never take this leap of faith I’ll never know
So I’m learning to fall with no safety net to cushion the blow

I bruise easily, so be gentle when you handle me
There’s a mark you leave, like a love heart carved on a tree
I bruise easily, can’t scratch the surface without moving me
Underneath I bruise easily, I bruise easily

Anyone who, can touch you, can hurt you, or heal you
Anyone who, can reach you, can love you, or leave you

So be gentle
So be gentle
So be gentle
So be gentle

I bruise easily, so be gentle when you handle me
There’s a mark you leave, like a love heart, carved on a tree
I bruise easily, can’t scratch the surface without moving me
Underneath I bruise easily,

I bruise easily, so be gentle when you handle me
There’s a mark you leave, like a love heart, carved on a tree
I bruise easily, can’t scratch the surface without moving me
Underneath I bruise easily, I bruise easily

I bruise easily
I bruise easily

Add comment April 11, 2008 adelinenatasha

fragmen

Malam terus merangkak menuju pagi. Dua manusia masih bersandar pada sebuah tembok. Saling bergumam saling mencaci dan saling memaki, dengan air mata sebagai ujung pamungkas perseteruan yang tiada ujung …

“Aku mungkin lelaki lemah, yang hanya bisa mencium kakimu..memohon cinta darimu, aku rela lakukan apapun untuk dapatkan kau dipelukku…”
“ Aku, juga inginimu…aku mau dirimu…”
“Lalu? Apalagi yang kau tunggu? Ayo pergi bersamaku..” ujar lelaki itu sambil mengangsurkan tangannya pada si gadis.
Si gadis memandangi tangan lelaki itu, tampak menjanjikan kebahagiaan. Tangannya mulai terulur hendak meraih tangan lelaki itu…tapi kemudian ditepisnya tangan lelaki itu.
“Aku tidak bisa..”
“Kenapa? Kau bilang kau ingin bersamaku…tapi kenapa kau tak punya sedikit keberanian untuk lari?”
“I don’t know you….but I want you…”
“do you love me?”
si gadis bungkam…
“do you love me?”
“not yet…”
“do you love him?”
“don’t ask…”
“apa yang kurang dariku? Sejauh apapun jarakku denganmu…semua kulalui…apapun yang kau pinta….kuberikan kau segalanya….aku bagai anak kucing yang hanya mampu mengikuti majikannya…..berharap diberi sekerat daging…jika menurut pada majikanku..”
“jangan bicara seperti itu!!”
“Aku melayanimu…kuberikan hidupku padamu….sampai matipun aku akan tetap memuja kecantikanmu…”
“hentikan!! Kau sakiti hatiku…”
“sakit? Seperti apa sakitmu? Apa sama denganku?”
“diam!!”
“aku tahu kau suka dipuja…aku tahu kau suka dimanja….aku mengerti setiap inchi darimu…bahkan yang terbusuk sekalipun…tak apa…akan tetap kupuja dirimu…karena bagiku kau adalah bidadari tanpa cela…beriku harapan tuk bisa mencinta”
“maafkan aku…bukan maksudku menyakitimu…”
“tak apa, kamu bukan tidak punya hati….kamu hanya manusia serakah…yang mungkin perlu belajar untuk lebih bersyukur…”
si lelaki beranjak dari duduknya….menatap bidadarinya sesaat lagi…
“jika setelah ini, aku tak bisa…bertemu dan bersamamu lagi….menikmati kenikmatan semu ini…maka doakanlah aku…supaya aku bisa tenang di surga…”
“apa maksudmu?”
“Kau tahu bidadariku? Banyak orang yang mati karena mencintai…beda dengan dicintai…tak perlu banyak energi untuk merasakan sakit hati…sampai jumpa lagi bidadari cantikku….”
“Jangan Pergi….jangan pergi…jangan pergi….” Bisik si Gadis lirih sambil terisak.
Langit berwarna jingga, ketika lelaki itu beranjak pulang…kearah bulan mulai menghilang..bersama lara yang menggantung di bahunya.

Add comment April 11, 2008 adelinenatasha

no tittle

Aku temukan kau di ujung sepiku
Bukan semu, bukan mimpi
Bawakan aku kupu – kupu jingga
Tuk redakan resah di hatiku

Bolehkah kupercaya adamu?
Dalam setiap detik yang kan terlewat..
Akankah kau terjaga..
Ketika ku terapuh dalam lara?

Genggam erat jemariku, terus tatapiku..
Jangan berkedip, jangan berpaling..
Agar dapat kupercaya hatimu..
Tuk sandarkan utuh duniaku padamu…

Add comment April 11, 2008 adelinenatasha

Gitar dalam Pelukan

GITAR DALAM PELUKAN

Sore itu Nina berada dalam bis kota yang membawanya pulang ke rumah. Duduk di bangku nomor tiga dari depan, disamping jendela,. Matanya menerawang keluar jendela, helaan nafas panjang keluar dari mulut mungilnya, ketika bis yang dinaikinya berhenti di depan mall untuk mengambil penumpang. Seorang pengamen masuk kedalam bis, sebuah lagu milik maroon 5 berjudul this love dinyanyikannya dengan merdu. Nina menoleh sekilas, sebelum akhirnya matanya terpaku melihat gitar yang dipakai si pengamen, sejenak dia ragu, tapi Nina semakin yakin ketika sebuah goresan tanda tangan berada pada belakang neck gitar pengamen itu. Bis kota yang penuh membuat Nina sedikit susah berdiri dari tempat duduknya. Sementera itu si pengamen tampak menuruni bis, dan berjalan ke seberang jalan. Nina berhasil turun, tapi dia kehilangan jejak si pengamen itu. Dengan tekad Nina menyusuri jalan malioboro sore itu. Sempat dia bertanya pada pedagang batik di emperan, dijawab dengan gelengan kepala tidak membuat Nina patah arang, dengan langkah mantap dan sedikit tergesa. Hingga langkahnya terhenti ketika didepan sebuah apotik, si pengamen yang dicarinya sedang merokok bersama kawan – kawannya. Nina menghela nafas panjang, lalu dia berjalan menghampiri pengamen tadi
“Maaf Mas, boleh saya bicara.” Tanya Nina sedikit kikuk, si pengamen tadi memandangi Nina dengan tatapan mata keheranan.
“Silakan aja mbak, mari duduk sini.” Si pengamen itu menggeser tempat duduknya.
“Nama saya Nina mas.” Ujar Nina sambil mengangsurkan tangan kanannya
si pengamen tadi menatapnya heran, belum pernah sepanjang kisah mengamennya, ada seorang gadis cantik yang mendatanginya untuk berkenalan.
“Saya Bagas mbak, ada yang bisa saya bantu?”
Nina memandangi gitar yang masih dipeluk Bagas, matanya berkaca – kaca. Teringat 2 tahun yang lalu, ketika dia juga memeluk gitar itu untuk yang terakhir kalinya.
“Darimana mas Bagas dapat gitar ini?” Tanya Nina
“Gitar ini?” Ulang Bagas
“Iya, darimana mas membelinya? Boleh gak saya beli saja….”
“Mbak, Gitar ini saya dapat dari sahabat saya…..saya gak mungkin menjual ke mbak…ini satu – satunya alat yang bisa saya paki untuk cari makan..”
“Teman kamu? Siapa namanya?”
“Rully…”
“Rullly? Kamu gak bohong kan?”
“Enggak mbak, saya gak bohong, saya dapat gitar ini dai Rully…”
“Kalau begitu, tolong temukan saya dengan Rully.”
“Mbak sungguh – sungguh? Ada apa sih mbak Nina? Ada sesuatu dengan gitar ini? Apa gitar ini milik mbak Nina?”
“Tolong temukan saya dengan Rully mas, saya mohon….” Ujar Nina sambil terisak tak kuat lagi menahan bendungan air matanya.
Bagas mengangukkan kepalanya. Nina berbisik lirih mengucapkan terimakasih pada Bagas.

Keesokan harinya Nina dan Bagas pergi menuju kos milik Rully. Wajah Nina terlihat tegang, sepanjang perjalanan di dalam bis menuju kos Rully dipeluknya gitar itu erat – erat. Bagas memandangnya dengan penuh tanda tanya, tanpa mampu bertanya.
“Ini kamarnya.” Kata Bagas setelah mereka sampai
Bagas mengetuk pintu kamar Rully, Nina berdiri disampingnya sambil masih memeluk gitar.
“Hai, tumben kamu Gas main ke kosku.” Ujar Rully
Nina menarik tangan Bagas, “Ini yang namanya Rully?” bisiknya pada Bagas.
“Eh, ini Rull ada yang mau ketemu.”
“Nama saya Nina mas…”
“Nina?”
Rully mengerutkan keningnya, seolah nama Nina tidak asing di telinga dan pikirannya. Rully melirik gitar yang dipeluk Nina. Ingatanya pun teringat pada beberapa tahun lalu, pada suatu sore ketika ada seorang gadis berambut pendek yang turun dari sebuah taksi dan sedang memeluk gitar. Wajah gadis itu tak jauh beda dengan gadis yang ada di depan matanya saat ini. Hanya saja gadis ini lebih tampak matang dan dewasa.
“Nina? Kamu Ninanya Ando?” tanya Bagas perlahan.
Nina menganggukkan kepalanya, tangisnya pecah seketika. Bagas dan Rully saling berpandangan.

Dua tahun lalu Nina dan Ando saling bergenggaman tangan melewati sebuah toko alat – alat musik. Ando memandangi gitar Gibson warna coklat yang dipajang di etalase toko. Nina ikutan berjongkok disamping Ando.
“Nin, kalau aku punya gitar ini…..aku akan buatkan lagu paling indah buat kamu.”
“Ndo, kamu serius mau jadi musisi ya?”
“Namanya juga cita – cita….sayang aja masih belum kesampaian…..karena aku kere, gitar yang kumainkan selama ini gitar milik teman. Andai saja kau punya gitar sendiri pasti aku akan lebih mampu lagi dari sekarang.”
“Kamu gitaris terbaik yang pernah ada Ndo…”
“Dan kamu wanita terindah yang untung aku miliki Nin…”
Keduanya bertatapan, Ando menggenggam tangan Nina. “Akan kubeli Gitar itu Nin, suatu hari akan kubeli gitar itu.”
Keesokan harinya, Nina berdiri di etalase toko itu tanpa Ando. Sejenak dia berdiri memandangi gitar itu dari luar etalase, lalu tanpa ragu Nina masuk ke dalam toko dan keluar sambil memeluk gitar itu.
Ando dan Nina, mirip kisah klasik si miskin dan si kaya. Kisah cinta tak berimbang yang dimiliki banyak orang. Ando yang mahasiswa pas – pasan, Nina yang putri konglomerat kaya.
“Bawa pulang makanan itu Nin.”
“Tapi kamu kan belum makan Ndo, aku bawa ini dari rumah supaya kamu gak perlu keluar uang untuk makan.”
“Aku gak perlu kamu kasihani Nin, aku bisa hidup. Aku masih bisa hidup.”
“Jangan keras kepala Ndo, ini hanya soal makanan.”
“Kamu anak orang kaya Nina, gak pernah merasa susah untuk makan, kamu bisa tidur enak di tempat tidur empuk, gak pernah merasakan pengapnya bis kota, mana bisa mengerti tentang hidupku.”
“Aku bisa naik bis kota, kemarin kita naik bis kota……aku suka, aku gak keberatan.”
Ando terdiam, dia teringat ketika kemarin dia memaksa gadis itu meninggalkan mobil genio miliknya di kampus. Diajaknya gadis itu naik bis kota, Nina tidak mengeluh. Hanya saja Ando iba melihat wajah Nina yang putih mulus itu jadi memerah, dan keringat berjatuhan dari jidatnya. Ando sadar, betapa beda dunianya dan dunia Nina.
“Kita putus saja Nin…” kata – kata Ando mengeksekusi pertemuan mereka sore itu. Ando membiarkan Nina menangis dan pergi begitu saja dari kosnya.
Sehari setelah putus, Nina datang ke kos Ando. Diletakkannya gitar yang tadinya akan diberikanya kepada Ando sebagai hadiah ulang tahun itu di muka pintu kamar kosnya.
Ando datang tepat setelah Nina pergi dari Kosnya. Rully datang menghampiri Ando,
“Tadi cewekmu datang kesini sambil bawa gitar itu.”
“Bilang apa dia?”
Rully menggelengkan kepala. “Dia gak bilang apa – apa.” Ujar Rully.
Ando menatap gitar itu, hatinya gelisah ingin sekali dia menemui Nina hari itu juga, ingin sekali dia datang ke rumah Nina. Tapi dia teringat ucapannya sendiri, dikepalkannya tangannya dan ditinjunya tembok kamarnya kuat – kuat. DUG! Darah mengucur dari tangan Ando. Tekad kuat untuk bisa menjadi manusia yang lebih berarti diucapkannya dalam hati
————-
“Dimana Ando?” tanya Nina pada Rullly
Rully menghela nafas panjang, lalu diambilnya sebuah buku dari dalam lemarinya. Diserahkannya buku itu pada Nina. Nina membuka halaman pertamanya, sebuah foto terlem disana, foto Nina dan Ando dalam fotobox mall,
ketika bulan datang malam itu, aku tetap tak mampu palingkan mataku dari kilatan senyummu yang merajam hampir seluruh persendianku…
Kamu fatamorgana itu, kamu oase itu….kamulah ilusi itu…
Sepertinya aku benar – benar mencintaimu
Nina membaca puisi yang ada dibawah foto itu, senyum menghiasi wajahnya. Ando yang dicintainya, selalu dicintainya selalu dipikirkannya ternyata juga selalu memberi cinta yang sama.
“Sekarang Ando dimana? Kok buku ini ada dikamu? Dan…hmm..kenapa gitar itu ada di kamu? Trus bisa ada di Bagas?”
Rully dan Bagas saling berpandangan, Nina masih menatap mereka berdua penuh harap. Rully menghela nafas panjang.
“Kamu kemana Nin? Ando mencarimu…” Tanya Rully
“Aku pergi dari Jogja aku sekolah di Munich, aku tidak tahan hidup di kota ini. Seluruh sudut kota ini penuh dengan Ando…aku tidak tahan…” ujar Nina sambil terisak
“Pantas…” gumam Rully
“Apa yang kulewatkan selama dua tahun ini ? Ando kemana ?”
“Nina, Ando akhirnya memiliki rekaman albumnya sendiri, dia punya satu album. Dengan satu single yang cukup terkenal. Kehidupannya berubah setelah itu Nin, dia jadi kaya. Itu gak membuat dia sombong Nina…dia mengangkat teman- temannya yang kesusahan keuangan. Dia sukses Nina. Tapi….ada yang selalu dia keluhkan dalam hidupnya, dia kangen kamu Nin….kamu berusaha dicarinya, tapi tiap kali dia ke rumahmu untuk mencari tahu kamu dimana…tidak ada satu orangpun di rumahmu yang memberitahunya.”
“Tidak ada yang bilang padaku….tidak ada satupun manusia dirumahku yang memberitahuku!” Nina berteriak
“Mereka bilang pada Ando, kamu sudah menikah….”
“Bohong…..jahatnya..”Nina terisak semakin keras
“Ando patah hati Nin, setelah itu…dia jadi berubah…mengurung diri, mudah marah, dan suatu hari…diberikanya gitarmu padaku Nina…dan …seminggu setelah itu, Ando ditemukan OD di kamar hotelnya, dia sudah pergi Nina …..”
“Tidak!!!!!”
Nina berdiri, dan mencengkram kerah baju Rully. Bagas menarik tangan Nina, membantu melepaskan Rully dari Nina, Nina meronta lalu jatuh tak sadarkan diri. Senja semakin memerah, lagi – lagi sebuah kisah cinta tak berakhir bahagia.

Add comment April 11, 2008 adelinenatasha

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 comment December 17, 2007 adelinenatasha

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

February 2020
M T W T F S S
« Apr    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
242526272829